Boleh saja kita mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Boleh saja kita dipandang bukan siapa siapa. Namun hak untuk bersikap dan mengambil keputusan adalah hak prerogatif diri. Dan tentu dalam bersikap bukan karena ingin dipandang siapa dan bgmna oleh orang lain. Semata kita hanya mencoba belajar berusaha untuk menjadi seorang yang mampu untuk berkiprah dan mempersiapkan masa depan anak. Semua harus diiringi langlah yang nyata. Tentu masa depan milih Allah. Tapi berdoa dan ikhtiar maksimal serta tawakal adalah porsi manusia. biarkan kita mengulurkan tangan ke atas. Dan atas mengulurkan tangan kebawah. Atau bahkan dilingkungan orang lain memandang dan menilai seenaknya. Yes sure, silahkan saya persilahkan. But, belum tentu orang yang memandang lebih baik itu lebih baik. baik, kehidupan selalu maju. Tidak mundur. maka kita harus melangkah maju. dan terus maju.
Lihat tuhan menunjukan hal yang aku tidak tau. Nyatanya ya mencari pembenaran untuk diri sendiri mertua ktika bercerita. Seolah benar dan aku salah. Dan nyatanya kejadian najla ngg ada dia main, pin tidak aakan diceritakan secra objektif tanpa penghakiman. Nyatanya aku memang salah sbg ortu apakh bnr aku terima saja diinjak2. Smpai di titik aku asumsikan aku ngg mau lagi tinggal serumah aku ngg mau lagi numpang. Karena nyatanya ktika numpang ada harga diri yang diombang ambing dan dicoreng bgtu saja. Mana ada orang yang mau membenarkan oranglain salah meskipun itu keluarga? Dan kapan aku disetujui untuk tinggal jauh dr klrg dia, pdhl aq dah tnggl jauh dr klrgku. Aku pun mikir bgmn ya Allah. Apakah aku salah. Apakah aku orang yang hina. Baik sih ktika ddpnku atau seolah mengiyakan aku makan. Nyatanya numpang memang tidak nyaman. Dan sprtny kalau aq dirumh mrtua bkalan gtu deh, mk kdng aku rasanya pngn lari, tdk mau d lingkungn itu, males dan ya males ngg mau jg. Kalau ankku mau dia...
Komentar
Posting Komentar