Boleh saja kita mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Boleh saja kita dipandang bukan siapa siapa. Namun hak untuk bersikap dan mengambil keputusan adalah hak prerogatif diri. Dan tentu dalam bersikap bukan karena ingin dipandang siapa dan bgmna oleh orang lain. Semata kita hanya mencoba belajar berusaha untuk menjadi seorang yang mampu untuk berkiprah dan mempersiapkan masa depan anak. Semua harus diiringi langlah yang nyata. Tentu masa depan milih Allah. Tapi berdoa dan ikhtiar maksimal serta tawakal adalah porsi manusia. biarkan kita mengulurkan tangan ke atas. Dan atas mengulurkan tangan kebawah. Atau bahkan dilingkungan orang lain memandang dan menilai seenaknya. Yes sure, silahkan saya persilahkan. But, belum tentu orang yang memandang lebih baik itu lebih baik. baik, kehidupan selalu maju. Tidak mundur. maka kita harus melangkah maju. dan terus maju.
Ini adalah selogan yang sering teman dan ayah ankku katakan kepadaku. Untuk apa memilih jalan yg tidak sesuai dg hati. seprti jalan politik yg sudh nampak sekali gemuk perut nya dibanding kan dengan jalan pendidikan atau jalan wirausaha. Karena untuk dibenak saat ini hanya ada dua jalan yg benar bersih, cuman ini pun sprtnya blm bisa dikatakan bersih 77%. Karena aku yg tau menau dunia sogok suap di dalam prangkat desa ini jdi rahasia di masyarakt desa. Dan dosenku hadis dlu ingt bngt, kalau kita kerja koq pke nyogok jelas tdk halal nya. Sepertinya itu berlaku disna. Kemudian masuk di pnddkn jg kalau ada maharnya itu jg sma tdk halal. Jdi pke jalur yg sewajrnya , meskopun dikata tmnku di marketingan dlu, ga bsa skrng hdup lurus2aja. Kalau maulirus aku suruh jdi ustadzah. Cuma kan ga gtu jg. ya aku maklum dia bkn seorang yg ahli dlm agama. atau mngenyam agama.i hmmm.. kemudian berkaca dari hidup yang telah ku lalui selama 3 stngh tahun ini. sudh menikah, berumah tangga, berada...
Komentar
Posting Komentar