Dulu, ketika msih dibangku kuliah, atau sekolah merasa paling bersalah kalau prestasi tdk bagus. Tapi sekarang setelah berumah tangga dan berbaur dg tetangga, semua nampak beda 95%, tdk ada yg namanya prestasi. ada nya bgmn cari cuan untuk makan atau jajan anak. LOL. Semua sudh nampak semu. Pun sebuah jabatan atau pangkat bahkan uang selayaknya sebuah kertas kosong. Nampak indah dulu ketika mau di raih. Tapi setelah di dapat semua nampak hambar. Dan hampa. Serasa kelezatan itu ketika dulu, bisa dekat dengan Nya. Dan mensyukuri setiap nafas atas karunianya. Sbg guru yang menfaat ilmu nya. Meskipun pnghasilan itu tdk sebnayk pengusaha. Atau warisan orang tua. Karena realitanya semua itu tdk ditangan jdi ya semu2 saja.
Lihat tuhan menunjukan hal yang aku tidak tau. Nyatanya ya mencari pembenaran untuk diri sendiri mertua ktika bercerita. Seolah benar dan aku salah. Dan nyatanya kejadian najla ngg ada dia main, pin tidak aakan diceritakan secra objektif tanpa penghakiman. Nyatanya aku memang salah sbg ortu apakh bnr aku terima saja diinjak2. Smpai di titik aku asumsikan aku ngg mau lagi tinggal serumah aku ngg mau lagi numpang. Karena nyatanya ktika numpang ada harga diri yang diombang ambing dan dicoreng bgtu saja. Mana ada orang yang mau membenarkan oranglain salah meskipun itu keluarga? Dan kapan aku disetujui untuk tinggal jauh dr klrg dia, pdhl aq dah tnggl jauh dr klrgku. Aku pun mikir bgmn ya Allah. Apakah aku salah. Apakah aku orang yang hina. Baik sih ktika ddpnku atau seolah mengiyakan aku makan. Nyatanya numpang memang tidak nyaman. Dan sprtny kalau aq dirumh mrtua bkalan gtu deh, mk kdng aku rasanya pngn lari, tdk mau d lingkungn itu, males dan ya males ngg mau jg. Kalau ankku mau dia...
Komentar
Posting Komentar