Langsung ke konten utama

OJO NGGEGE MONGSO

 Unen unen jawa yakni ojo nggege mongso inggeh punika dadi pangemut piambak e tiyang. Orang harus sabar dan bertindak tepat disegala situasi dan kondisi. 

Dalam perbincangan serius tapi santai beberapa hari yang lalu, ketika membandingkan sekilas kualitas kesabaran antara aktivis “pejuang” (yang bergerak dalam kerja-kerja kemanusiaan) dan pengusaha (yang murni bergelut mengejar profit ekonomi), seorang kawan berujar: “Salah satu yang membunuh perjuangan adalah ketergesa-gesaan. Para pengusaha kadang punya kesabaran lebih besar ketimbang para ‘pejuang’. Para pengusaha tekun berjuang dan fokus berkiprah di kolam-kolam kecil yang sejak awal dibangunnya sendiri hingga suatu saat juga punya kolam besarnya sendiri.”

Lalu bagaimana halnya dengan kualitas kesabaran para aktivis?

“Aktivis sering kali kekurangan stok kesabaran, ingin semua kiprah segera berbuah dan akhirnya banyak tujuan yang gagal terwujud akibat terlampau bernafsu semua hal ingin ditangani. Itulah sebabnya tanpa terasa mereka kerap melompat tak jelas ke sana-sini. Endingnya: tak berhasil di sana dan gagal di sini. Soal ini, contohnya sudah banyak sekali.”

Mencermati penuturan kawan tentang bahaya ketergesaan selaku pembunuh perjuangan itu, penulis pun jadi teringat, betapa benar ungkapan sekaligus anjuran penting dalam pitutur luhur Jawa berikut:
Yen to durung “titi wancine”.
Sumabaro sawetoro wektu.
Ojo njur kesusu, keburu napsu
Yen durung kuwowo nepake saliro.
Tumindako kalawan “angon wayah”.

Dalam maknanya yang sederhana, pitutur luhur ini menekankan betapa pentingnya manusia punya kesabaran ekstra, mengekang nafsu, tidak tergesa-gesa hingga terjerumus pada kondisi asal bertindak tanpa mengukur kemampuan dan kesiapan diri.

Lebih lanjut, pitutur ini juga mewanti-wanti: betapa perlunya memiliki kecermatan dalam menentukan prioritas dan paham kapan waktu yang tepat untuk berbuat dengan didahului pertimbangan yang matang dan cermat.

Berkenaan dengan sejumlah syarat yang mesti dipenuhi dan pantangan yang mesti dihindari dalam setiap tindakan inilah yang secara singkat terangkum dalam ungkapan Jawa: “Ojo nggege mongso”.

Untuk diketahui, kata “nggege” berasal dari kata ulang “age-age”, yang memperoleh penyengauan menjadi “[ng]age-age”, lantas dipersingkat menjadi “nggege”.

Demi lebih memudahkan pemahaman, bila dikaitkan dengan “takdir”, sebutan “nggege mongso” ini bisa berarti: ‘mendahului takdir’. Akibatnya, tindakan apa pun yang dilakukan tidak tepat pada waktunya atau belum tiba waktunya, maka yang dihasilkan alih-alih produktivitas, sebaliknya justru menjadi “kontra produktif”.

Sedangkan kata “mongso” di dalam bahasa Jawa Baru antara lain memuat arti: ‘waktu; musim’ yang salah satu kata jadiannya adalah “mangsan”, yang berarti: ‘musiman’ atau ‘ada kalau pada musimnya’. Arti demikian seperti tergambar pada sebutan “mongso ketigo (musim kemarau), mongso labuh (masa awal musim hujan), mongso duren (musim durian), mongso panen (waktu panen), mongso pagebluk (waktu pendemi)” seperti saat ini, dan sebagainya.

Istilah “mongso” ini bisa juga diganti dengan kata “wanci”, yang bersinonim arti, menjadi “titi wanci” sebagaimana disebutkan dalam pitutur Jawa di atas.

Perihal “ketepatan waktu” itulah yang dalam bahasa Jawa acap diistilahkan dengan “wis titi mongsone” atau “wis titi wancine”, dalam arti ‘telah tiba waktunya’.

Sebaliknya, tergesa-gesa melakukan aktivitas ketika belum tiba waktunya, maka diistilahkan dengan “durung titi wancine” atau “durung titi mongsone”. Begitu pula jika melakukan kegiatan ketika sudah lewat waktu, maka sebutannya adalah “wis ora titi mongso/wancine maneh”, seperti “wis ora titi mangsane pelem maneh (sudah tak musim mangga berbuah)”.

Pada sebutan-sebutan tersebut, siklus waktu digambarkan sebagai mempunyai keteraturan (order time circle). Untuk itu, manusia yang berada di dalamnya perlu menata diri sesuai dengan pola keteraturan yang ada. Jika tidak, maka manusia tersebut akan “tergilas roda waktu”.

Suatu tindakan yang dilakukan tanpa memerhatikan ketepatan waktunya, asal berbuat di sembarang waktu, di dalam bahasa Jawa Baru diistilahkan dengan “ora angon wayah”. Kata “angon” menunjuk pada penggembalaan, dan kata “wayah” berarti ‘waktu’.

Metafor ini memberi gambaran bahwa apa yang hendak dilakukan mestilah “digembalakan (dingon)“, agar tepat waktu, dan sekaligus tepat sasaran, tepat tempat, dan tepat fungsi.

Suatu tindakan yang “nggege mongso” dengan demikian, masuk ke dalam apa yang diistilahkan dengan “ora angon wayah”, yang berarti ‘abai terhadap ketepatan waktu’.

Kembali pada persoalan betapa pentingnya setiap manusia memiliki kesabaran dan tahu persis kapan waktu yang tepat untuk bertindak, persoalan berikutnya adalah: seberapa mudahnya kesabaran itu diwujudkan dalam perilaku keseharian?

Masalahnya, kalau mau jujur, di zaman serba cepat dan di tengah budaya instan, ketika hampir semua orang cenderung “uber-uberan” untuk saling unggul seperti sekarang, terbayang tak mudahnya bagi sebagian orang untuk bersabar walau sebentar.

Itulah sebabnya mengapa banyak dari mereka akhirnya berperilaku kalap tanpa sadar, dan banyak ketelanjuran tindakan yang pada akhirnya disesali, gara-gara sejak awal memang dilakukan serampangan, terburu nafsu, tanpa dilandasi niat dan nalar yang benar, sebagaimana tergambar dalam kisah “Garudeya” berikut.

Pada kisah “Garudeya“, dicontohkan tentang sifat kurang sabar menunggu tiba waktu (tergesa-gesa) dari Dewi Winata. Yakni tentang tiga butir telur yang ditetasinya, yang sebuah di antaranya telah dipecah jauh sebelum tiba waktu menetas, lantaran ia bernafsu untuk segera punya anak. Hasilnya, cuma keluar kilatan cahaya dari cairan telur itu.

Telur kedua, juga dipecah sebelum tiba waktu menetas. Alhasil, lahir anak yang diberi nama “Aruna”, yang hanya berwujud separuh badan di bagian atas. Adapun bagian bawah, masih belum berbentuk anatomi sempurna.

Tinggallah telur ketiga, yang berkaca pada pengalaman buruk telur pertama dan kedua, dengan lebih sabar ditunggu hingga tiba waktu menetas dengan sendirinya.

Nah, dari telur ketiga inilah akhirnya terlahir makhluk yang beranatomi lengkap (jangkep), berupa manusia setengah burung, yang diberi nama “Garuda” dan kelak menjadi sosok perkasa.

Tindakan Winata terhadap telur pertama dan kedua dalam kisah di atas itulah contoh tentang perilaku “nggege mongso”.

Menutup tulisan ini, mungkin ada baiknya kita renungkan pesan lebih lanjut sang kawan tentang kesabaran, saat dia menyitir pernyataan penulis terkenal abad ke-20 yang memperoleh hadiah Nobel pada tahun 1962, John Steinbeck: “Jika sesuatu itu baik, ia akan terwujud. Yang paling penting adalah, jangan tergesa. Tiada sesuatu yang baik yang tak terwujud.”

Sekali lagi, kesadaran dan anjuran semacam inilah yang dalam falsafah Jawa disebut “Ojo nggege mongso”. Jangan mendahului waktu. Jangan mendahului takdir. Bersabarlah, karena Tuhan alam raya ini akan mengatur segala sesuatu dengan sebaik-baiknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda depan belakang

 Lihat tuhan menunjukan hal yang aku tidak tau. Nyatanya ya mencari pembenaran untuk diri sendiri mertua ktika bercerita. Seolah benar dan aku salah. Dan nyatanya kejadian najla ngg ada dia main, pin tidak aakan diceritakan secra objektif tanpa penghakiman. Nyatanya aku memang salah sbg ortu apakh bnr aku terima saja diinjak2. Smpai di titik aku asumsikan aku ngg mau lagi tinggal serumah aku ngg mau lagi numpang. Karena nyatanya ktika numpang ada harga diri yang diombang ambing dan dicoreng bgtu saja. Mana ada orang yang mau membenarkan oranglain salah meskipun itu keluarga? Dan kapan aku disetujui untuk tinggal jauh dr klrg dia, pdhl aq dah tnggl jauh dr klrgku. Aku pun mikir bgmn ya Allah. Apakah aku salah. Apakah aku orang yang hina. Baik sih ktika ddpnku atau seolah mengiyakan aku makan. Nyatanya numpang memang tidak nyaman. Dan sprtny kalau aq dirumh mrtua bkalan gtu deh, mk kdng aku rasanya pngn lari, tdk mau d lingkungn itu, males dan ya males ngg mau jg. Kalau ankku mau dia...

Definisi gemati

 Aku tu agak laen jg dengan definisi ini, soale, dari kalangan orangtua spt buyut najla mendefinisikannya semacam mau masakke, ngumbahke, ngewangi gawean rumah orangtua itu masuk definisi ini. Beda lg dg perspktif obrolan skitar sini ya, kaya ⁰⁰0 orang yg kaya uang nya itu dianggap gemati. Alias harus royaal gtu ke ortu. Nah definisi ini aku terapkan smpai smua kebutuhan rt krn pozizi aq ikut mrtua ya,aku ksh smua tu, aku cukupi kbutuhan, masak iya aq masak mrtua jg masak, kdng jg aku sndiri yg masak. Trus soal blnja sudh hampir 6 bln ini smua kbtuhan aku tanggung paling mrtua tu kluarin uang 15% dr kbutuhan harian 85% nya aku. Dari beli minyak, so klin, trus bnjla sayur, blnja bumbu, sabun mandi, shmpo sbun cuci piring aku smuaa. Baru soalnya sini trgolong boros soal blnja harian, krna ngelooos soal makanan. Aku punya ank TK dan PAUD jg smua sangu kbutuhanya dr spatu, baju harian, baju skolah, nabung, smuanya aku n suami. Trus masih2 kalo sma mertua itu masyaAllah harus sabar dima...