Hampa, terkadang itu yang ku rasa sekarang, dulu ku rasa hidup itu berwarna menarik, penuh warna, namun sepertinya berbeda ya, fase kehidupan setiap orang itu berbeda2. Semakin ke sini aku mengerti dan sangat memahami bahwa hidup didunia memang hanya sebuah permainan sprt QS Quran "Aduunya mataul khurur" jika dg anak akan mengurai keceriaan dkt dngannya aku pun senang, tp LDR sm suami jg aku ga suka, pengen nya kumpul jdi stu rumah merangkai cerita bersama lagi. Meskipun crita terbaik Itu dr NYa. Pahit kalau kita pikir pahit, pahal pun cuma pikiran yg terbatas. Hidup dg mrtua pun ya smua menntu sma saja pasti pernh meraskan itu. Tapi kadng ketika sudh menikah pilihan diri adalh pilihn terkhir, atau bhkan tidak ada pilihn tepatnya. Beda sekali pas waktu mash lajang apa lagi hidup muk di kota tok, g mkir ke klrg, mari su.ul adab kan nek wes ng kota moro deso ki. Hmmmm. Krn tafsiran hati pikiran njomplang. Hei, sadar lah, kita cuma hamba kan. Statusnya hamba, mung wayang nge gusti Allah.
Ini adalah selogan yang sering teman dan ayah ankku katakan kepadaku. Untuk apa memilih jalan yg tidak sesuai dg hati. seprti jalan politik yg sudh nampak sekali gemuk perut nya dibanding kan dengan jalan pendidikan atau jalan wirausaha. Karena untuk dibenak saat ini hanya ada dua jalan yg benar bersih, cuman ini pun sprtnya blm bisa dikatakan bersih 77%. Karena aku yg tau menau dunia sogok suap di dalam prangkat desa ini jdi rahasia di masyarakt desa. Dan dosenku hadis dlu ingt bngt, kalau kita kerja koq pke nyogok jelas tdk halal nya. Sepertinya itu berlaku disna. Kemudian masuk di pnddkn jg kalau ada maharnya itu jg sma tdk halal. Jdi pke jalur yg sewajrnya , meskopun dikata tmnku di marketingan dlu, ga bsa skrng hdup lurus2aja. Kalau maulirus aku suruh jdi ustadzah. Cuma kan ga gtu jg. ya aku maklum dia bkn seorang yg ahli dlm agama. atau mngenyam agama.i hmmm.. kemudian berkaca dari hidup yang telah ku lalui selama 3 stngh tahun ini. sudh menikah, berumah tangga, berada...
Komentar
Posting Komentar