Hampa, terkadang itu yang ku rasa sekarang, dulu ku rasa hidup itu berwarna menarik, penuh warna, namun sepertinya berbeda ya, fase kehidupan setiap orang itu berbeda2. Semakin ke sini aku mengerti dan sangat memahami bahwa hidup didunia memang hanya sebuah permainan sprt QS Quran "Aduunya mataul khurur" jika dg anak akan mengurai keceriaan dkt dngannya aku pun senang, tp LDR sm suami jg aku ga suka, pengen nya kumpul jdi stu rumah merangkai cerita bersama lagi. Meskipun crita terbaik Itu dr NYa. Pahit kalau kita pikir pahit, pahal pun cuma pikiran yg terbatas. Hidup dg mrtua pun ya smua menntu sma saja pasti pernh meraskan itu. Tapi kadng ketika sudh menikah pilihan diri adalh pilihn terkhir, atau bhkan tidak ada pilihn tepatnya. Beda sekali pas waktu mash lajang apa lagi hidup muk di kota tok, g mkir ke klrg, mari su.ul adab kan nek wes ng kota moro deso ki. Hmmmm. Krn tafsiran hati pikiran njomplang. Hei, sadar lah, kita cuma hamba kan. Statusnya hamba, mung wayang nge gusti Allah.
Lihat tuhan menunjukan hal yang aku tidak tau. Nyatanya ya mencari pembenaran untuk diri sendiri mertua ktika bercerita. Seolah benar dan aku salah. Dan nyatanya kejadian najla ngg ada dia main, pin tidak aakan diceritakan secra objektif tanpa penghakiman. Nyatanya aku memang salah sbg ortu apakh bnr aku terima saja diinjak2. Smpai di titik aku asumsikan aku ngg mau lagi tinggal serumah aku ngg mau lagi numpang. Karena nyatanya ktika numpang ada harga diri yang diombang ambing dan dicoreng bgtu saja. Mana ada orang yang mau membenarkan oranglain salah meskipun itu keluarga? Dan kapan aku disetujui untuk tinggal jauh dr klrg dia, pdhl aq dah tnggl jauh dr klrgku. Aku pun mikir bgmn ya Allah. Apakah aku salah. Apakah aku orang yang hina. Baik sih ktika ddpnku atau seolah mengiyakan aku makan. Nyatanya numpang memang tidak nyaman. Dan sprtny kalau aq dirumh mrtua bkalan gtu deh, mk kdng aku rasanya pngn lari, tdk mau d lingkungn itu, males dan ya males ngg mau jg. Kalau ankku mau dia...
Komentar
Posting Komentar