Tau tidak, jika setiap nafas yang Allah kasih untuk kita, karunia penglihatan, tangan kaki yang sempurna, tanpa cacat itu adalah karunia dan modal yang tak terhingga. Masih banyak pandangan stigma masyarat yang masih kurng pas. Tidak menyalahkan atau menghakimi, hanya memandang dari sudut pandang maslahah. Kalau gus baha memberikan dawuh, hidup tidak usah repot asal tidak maksiat sja sudh baik. Hloo kalau di desa rasan2 justru kan biasa adat, katanya g rasan2 itu dikira g srawung orang. Dalam hal ini kalau konteks isi pembicaraannya itu merugikan org lain menyingkir saja. Tapi yang namanya pembicaraan kan tidak rau tu ngalor ngidul g ada batas. Kadang diwarnai debat kusir. Hal itu umum ditemui dikalangan desa. Ada nilai bagus dan tidak disetiap kehidupan baik di desa atau kota. Bukankah Allah yang mengatur jalan. Dikaruniai anak atau suami, orng tua harta, cantik, pintar semua hanya titipan bukan. Manusia dibuat dr tanah apa yang mau disombongkan?? Mencari penghargaan g butuuh yg namanya penghargaaan mau dipandng sblh mata, yo karep mu, mau mandang tinggi yo karep mu, wong siji manungso di delok pengeran sko iman taqwane,, krono nek dunyo iku coboo. Tangan kaki mulut bakal dd saksi suk nek yaumul akhir. Yang tak pikirkan aku masuk golongan pundi gustiiii, mugi2 panjenengan masukke golongan tiang2 ingkang sholeh, dicintai njenengan kalih nabi. Menilai diri sendiri itu penting, apakah aku sudh baik, apakh aku sdh sesuai jalur Nya? MasyaAllah, mugi2 dijaga gusti Allah, dilindungi, dituntun dirahmati dirumati.. gondelan kanjeng nabi,,, Mung sak dermo ngelakoni, ngelampah i..
Lihat tuhan menunjukan hal yang aku tidak tau. Nyatanya ya mencari pembenaran untuk diri sendiri mertua ktika bercerita. Seolah benar dan aku salah. Dan nyatanya kejadian najla ngg ada dia main, pin tidak aakan diceritakan secra objektif tanpa penghakiman. Nyatanya aku memang salah sbg ortu apakh bnr aku terima saja diinjak2. Smpai di titik aku asumsikan aku ngg mau lagi tinggal serumah aku ngg mau lagi numpang. Karena nyatanya ktika numpang ada harga diri yang diombang ambing dan dicoreng bgtu saja. Mana ada orang yang mau membenarkan oranglain salah meskipun itu keluarga? Dan kapan aku disetujui untuk tinggal jauh dr klrg dia, pdhl aq dah tnggl jauh dr klrgku. Aku pun mikir bgmn ya Allah. Apakah aku salah. Apakah aku orang yang hina. Baik sih ktika ddpnku atau seolah mengiyakan aku makan. Nyatanya numpang memang tidak nyaman. Dan sprtny kalau aq dirumh mrtua bkalan gtu deh, mk kdng aku rasanya pngn lari, tdk mau d lingkungn itu, males dan ya males ngg mau jg. Kalau ankku mau dia...
Komentar
Posting Komentar