Langsung ke konten utama

Hidup yang Mengalir

 Sudah berhari-hari kadang aku merasa hambar. Namun dua hari ini aku tidak merasa hambar. Aku melepaskan belengggu pada ririku yang sebenarnya kalau aku tes psikologi ada tpe kepribadian ENTD tipe A. Mungkin itu bagian dari diriku. Aku melepas belenggu-belenggu aku harus begni aku harus begitu dan lain sebagainya. Target2 tinggi yang aku simpul dalam harapan dan berlabuh kesenyapan dalam diri. Sesungguhnya aku bukan orang yang pandai dalam semua hal, lebih ke fleksibel aja mengalir dan mengikuti bagaiamana takdir akan membawaku. Jika didepanku ada batu besar dan menutupi jalanku aku disuruh membelahnya maka akan ku belah. Semata aku tak memikirkan diriku, hanya orang yang ku sayang saja. Ilmu yang kupelajari selama kuliah Alhamdulillah tidak sia-sia, kesabaran, ketekunana, seni bertahan hidup disemua situasi. Ada beberapa hal yang belum bisa aku kuasai dengan  maksimal, seperti seni berkomunikasi, aku menemui semua orang dengan tipe kepribadian dan seni komunikasi yang handal. Tapi entahlah gairahku untuk menjadi orang yang bagus komunikasinya terkdang memudar, terkdang juga semangat. Hah, tentu bukan pengaruh horman ya. Aatau pengaruh hal lain aku jg kurang paham. Aku kembali kecerita beberapa bulan ini ya minggu-minggu terakhir. Aku termenung, sebenarnya apa yang aku cari dan inginkan? karena nyatanya setelah menikah, kompleksitas masalah dan pengambilan keputusan semakin rumit dan dibenurkan dengan keadaan sosial, emosional, kluarga, serta keluarga besar. Seperti kenyataan yang aku hadapi sekarang ini. Sebuah dilematis kehidupan. Aku tinggal dirumah mertua, enak sih suka suasana desa dengan kekayaan sumber daya alam yang sangat melimpah. Namun, disisi lain ada akses pendidikan untuk anak yang kualitasnya jauh dibawahku dlu ketika masih kecil. Selain itu penghematan bisa maksimal, dan saveing jangka panjang bisa dimungkinkan. Namun, ada harga yang harus dibayarkan jauh dengan suami, dan tidak bisa menjadi klrg yang utuh satu atap. Konflik dengan mertua klrg besarnya gesekan juga pasti ada, apalagi hidup 24 jam bersama, tapi mertuaku baik, baik bngt, meskipun ya crewet dan suka lantang bngt kalau bicara, nada tinggi. Tapi soal makanan dan jajan untuk anakku jika beliau habis dpt uang ya pasti diksh. Kecemburuan ketika anku lbh deket sm kakaek nya dr pda aku. Jujur itu ada, cuma aku tidak pernh menampakkannya,demi menjaga keharmonisan. Terkadang dapat punjungan aku yang makan tp secr tdk sengaja mendengar celetukan yang makan yang buoh atau nyumbang jd buatku hati-hati untuk makan makanan, jd jk aku sadar aku puasa. Sadar aku snediri bukan orsang yang menghasilkan dan bukan orang rajin ke ladang. Hnaya urus keperluan dirumah dan bantu bersih2 rumah, kdng2 jajankan 1 klrg kalau suami kaish jatah bulanan. 4 bulan ini aku gag mengambil jatah bulanan bnyak. Karena mau nyaur hutang dibln 8. Nmaun, enak nya juga ada kok tinggal sm msertua, ada yang bantu momong ketika aku repot dan sibuk kerja ada yang masakin kerjaku smnggu sekali sih gag nentu waktu PPS. Skrng kontrak dh slse. Cuma ngajar mth dan b.ing diskolah. mau ngajar di Khozin jg jauh kl harus PP blora terus fisikku beh rasane ky digebukii dah beda kalau dah pnya ank tu sm sblm nikah. Belum lagi dirumh didesa mertua itu sering masak2.sebulan 3 kali ada kalau dirata-rata. D desa semua harus kerja keras apoa-apa dikerjakan sendiri. Beda kalau dikota dan aku disemarang apa-apa serba dibantu dan dibayarkan dg uang. Jadi perbedaan di desa dan kota cukup kentara dibberapa aspek. Di todanan sini menurutku perkembangannya pesat seklai apa lagi bnyak yg dlunya perantauan weh rumahnya pada gedong2 mobilnya dua. dan ekoniminya sudhmaju. Ramai seklai bnyak toko-toko baru pengusa-pengusaha muda dengan modal ekonimi yang lumayan. Bismilah bulan 10 nanti diksh kelancaraan untuk usaha klrg kecilku. Dan tercpaai semua hajadku dan klrg kecilku untuk mengembangkan dan mengabdikan diri pada agama, nusa dan bangsa ini pengembangan ilmu dan kebermanfaatan dalam smua aspek, Allah meridoi. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda depan belakang

 Lihat tuhan menunjukan hal yang aku tidak tau. Nyatanya ya mencari pembenaran untuk diri sendiri mertua ktika bercerita. Seolah benar dan aku salah. Dan nyatanya kejadian najla ngg ada dia main, pin tidak aakan diceritakan secra objektif tanpa penghakiman. Nyatanya aku memang salah sbg ortu apakh bnr aku terima saja diinjak2. Smpai di titik aku asumsikan aku ngg mau lagi tinggal serumah aku ngg mau lagi numpang. Karena nyatanya ktika numpang ada harga diri yang diombang ambing dan dicoreng bgtu saja. Mana ada orang yang mau membenarkan oranglain salah meskipun itu keluarga? Dan kapan aku disetujui untuk tinggal jauh dr klrg dia, pdhl aq dah tnggl jauh dr klrgku. Aku pun mikir bgmn ya Allah. Apakah aku salah. Apakah aku orang yang hina. Baik sih ktika ddpnku atau seolah mengiyakan aku makan. Nyatanya numpang memang tidak nyaman. Dan sprtny kalau aq dirumh mrtua bkalan gtu deh, mk kdng aku rasanya pngn lari, tdk mau d lingkungn itu, males dan ya males ngg mau jg. Kalau ankku mau dia...

Definisi gemati

 Aku tu agak laen jg dengan definisi ini, soale, dari kalangan orangtua spt buyut najla mendefinisikannya semacam mau masakke, ngumbahke, ngewangi gawean rumah orangtua itu masuk definisi ini. Beda lg dg perspktif obrolan skitar sini ya, kaya ⁰⁰0 orang yg kaya uang nya itu dianggap gemati. Alias harus royaal gtu ke ortu. Nah definisi ini aku terapkan smpai smua kebutuhan rt krn pozizi aq ikut mrtua ya,aku ksh smua tu, aku cukupi kbutuhan, masak iya aq masak mrtua jg masak, kdng jg aku sndiri yg masak. Trus soal blnja sudh hampir 6 bln ini smua kbtuhan aku tanggung paling mrtua tu kluarin uang 15% dr kbutuhan harian 85% nya aku. Dari beli minyak, so klin, trus bnjla sayur, blnja bumbu, sabun mandi, shmpo sbun cuci piring aku smuaa. Baru soalnya sini trgolong boros soal blnja harian, krna ngelooos soal makanan. Aku punya ank TK dan PAUD jg smua sangu kbutuhanya dr spatu, baju harian, baju skolah, nabung, smuanya aku n suami. Trus masih2 kalo sma mertua itu masyaAllah harus sabar dima...